Interkoneksi Transport

Media Penjualan Tiket Pesawat dan Kereta Api Online

Turbulensi Menyadarkan Penumpang Pesawat, Pentingnya Sabuk Pengaman

Peringatan bahkan perintah awak pesawat baik melalui suara audio atau pun peragaan keselamatan udara yang disampaikan oleh awak kabin pesawat atau pramugari penting artinya bagi penumpang. Diantarnya tentang sabuk pengaman. Mereka memperagakan menjelang pesawat lepas landas atau beberapa menit pesawat berjalan dari apron menuju landasan pacu. Standard operasional seperti itu merupakan tugas yang wajib mereka sampaikan. Terkandung pesan penting yang tidak bisa diabaikan.

Dalam beberapa kali instruksi lewat speaker, awak kabin selalu mengingatkan: pasang sabuk pengaman, melipat meja dan menegakkan sandaran kursi. Meskipun lampu tanda sabuk off sebagai tanda bolehnya penumpang melepaskan sabuk, khususnya jika ingin ke toilet, bukan berarti yang diam di kursinya juga harus melepaskan sabuk. Mungkin diantara problem perut gemuk menyebabkan penumpang melepaskan sabuk, atau bisa jadi lalai atau lupa memasang kembali setelah dari toilet.

Banyak persepsi penumpang memahami sabuk hanya dipasang saat akan terbang dan sesaat sebelum mendarat. Dua kondisi take off dan landing ini lah pilot memaksimalkan kerja engine pesawat agar tetap stabil di udara. Hentakan dan goncangan sangat terasa pada keadaan ini. Sabuk pengaman sebagai bentuk antisipasi yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi saat take off dan landing. Berbeda sekali keadaannya di atas langit sana, di ketinggian sekitar 30.000 kaki atau lebih. Pesawat dalam keadaan stabil, engine pesawat pun lebih tenang yang menunjukkan kerja mesin lebih ringan. Tekanan udara berkurang dan pengaruh gravitasi bumi menjadi faktor yang meringankan bobot pesawat sehingga menjadi lebih stabil.

Saat pesawat di atas langit, terbang dalam keadaan stabil, di atas awan, pemandangan kiri-kanan cerah membiru, penumpang merasakan keadaan aman, bahkan awak kabin pun meningkat aktivitas layanannya hilir mudik ke depan dan belakang. Ternyata … berita telah mengejutkan pengguna jasa penerbangan. Baru-baru ini, ada dua kejadian yang tidak biasa terjadi di langit Indonesia, 2 pesawat luar negeri yaitu Etihad dan Hongkong Airlines mengalami turbulensi pada rute dan waktu yang berbeda. Etihad dengan rute perjalanan dari Abu Dhabi ke Jakarta dan mengalami turbulensi di atas wilayah Sumatera Selatan 4 Mei 2016 antara pukul 13.00-14.00 WIB. Hongkong Airlines dengan rute dari Bali menuju Hongkong dan mengalami turbulensi di atas pulau Kalimantan pada tanggal 7 Mei 2016 sekitar pukul 04.30 WITA. Padahal pesawat masih berada di posisi stabil pada ketinggian diatas 30.000 kaki, bukan saat bersiap landing atau take off.

Akibat dari turbulensi ini beberapa penumpang mengalami cidera ringan dan berat, bahkan patah tulang. Beberapa pakar telah menjelaskan mengapa terjadi turbulensi. Turbulensi ini disebabkan oleh kecepatan angin dan terjadi sulit diduga. Untuk mendeteksinya perlu alat yang super canggih. Beberapa penyebabab turbulensi : 1] badai, 2] angin yang berhembus di pegunungan, 3] udara yang terpecah karena dilalui pesawat atau benda terbang sehingga menimbulkan pusaran udara, dan 4] turbulensi yang terjadi dalam keadaan langit tanpa awan. Langit tanpa awan inilah yang dinilai cukup menyulitkan pilot untuk menghindari atau memprediksi adanya turbulensi.

Dari paparan dan informasi yang terkait dengan musibah dialami oleh penumpang pesawat yang terkena dampak turbulensi, maka alangkah lebih baiknya para penumpang tetap menggunakan sabuk pengaman selama di dalam pesawat. Adapun saat berjalan menuju toilet kemudian terjadi turbulensi itu sudah diluar kemampuan manusia untuk menghindarinya. Oleh karenanya selain berhati-hati juga memperbanyak do’a selama perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *