Interkoneksi Transport

Media Penjualan Tiket Pesawat dan Kereta Api Online

Porter Tiba-Tiba Menjadi Topik Tren Dunia Transportasi

porter st pasar senen

Jasa angkat barang di bandara, stasiun, terminal bahkan pelabuhan merupakan jenis pekerjaan halal yang bisa dilakukan oleh tiap orang. Hampir dipastikan 90% penumpang membawa barang dan sebagiannya membawa lebih dari 3 item barang, mulai dari koper, tas ransel, atau berupa packing kardus. Di terminal penumpang di bandara dan stasiun mudah untuk mencari jasa angkat barang atau diistilahkan dengan porter. Jumlah mereka bisa mencapai ratusan orang untuk bandara, sedangkan di terminal penumpang stasiun kereta api jumlahnya puluhan orang.

Profesi porter ini mengandalkan tenaga. Dengan tenaga yang kuat, seseorang bisa menjalani profesi ini. Tetapi, tidak mudah untuk bisa menjadi porter. Selain memiliki perkumpulan atau paguyuban, mereka juga merupakan sosok yang cukup lama berada di lingkungan terminal penumpang. Domisili mereka tentu tidak jauh dari lokasi kerja. Porter memiliki perkenalan akrab dengan para petugas resmi baik di terminal bandara maupun stasiun kereta api.

Agar tampak resmi dan tertib porter pun memiliki seragam lengkap dengan no seri seragam. Tidak semua orang bisa menyamar atau berpura-pura menjadi porter. Berhubung dunia angkat barang ini mengharuskan porter membawakan barang hingga ke tempat yang diizinkan maka mereka pun hafal dengan seluk beluk situasi lingkungan. Mereka juga mengenal antar petugas, dari sekuriti hingga manager pengelola. Para porter bisa mengantarkan barang hingga masuk ke dalam gerbong kereta api. Porter di bandara dapat mengantarkan barang bawaan penumpang hingga di depan konter cek in. Porter lainnya ada juga yang menempati job area mengurusi bagasi penumpang pesawat hingga ke dalam kabin bagasi pesawat. Ini jenis porter bagian dalam sebagai tenaga lepas yang dipekerjakan oleh pengelola bandara (angkasa pura).

Kadang porter yang terlalu agresif menawarkan jasa sangat tidak disukai oleh calon penumpang. Kalau dulu, tiap kereta api datang, bahkan kereta belum benar2 berhenti “serbuan” porter ke dalam kereta dapat membuat panik penumpang. Namun, dalam 3 tahun terakhir ini para porter di stasiun kereta api tampak lebih beretika terhadap penumpang kereta api yang hendak berangkat maupun pulang. Itulah upaya mereka para porter untuk mendapatkan imbalan 10.000-15.000 per rit jasa angkat dan antar.

Lain lagi modelnya dengan porter di bandara. Mereka seperti layaknya pegawai angkasa pura atau karyawan maskapai yang bisa dengan leluasa keluar masuk area keberangkatan. Bahkan saking kenalnya dengan petugas konter cek in porter ini bisa mendahulukan konsumennya. Setidaknya mereka bisa mengambil posisi antrian yang barang agar cepat ditangani petugas cek in.

Dibalik jasa porter yang memang sangat diperlukan penumpang, ada nilai negatif akibat tercemar oleh ulah oknum porter yang melakukan pencurian isi bagasi penumpang pesawat. Meskipun porter yang dimaksud ini adalah porter bagian dalam, namun akhirnya semua yang berprofesi porter luar pun juga terkena imbas. Porter dalam adalah petugas jasa angkut yang mengurusi bagasi penumpang dari cek in bagasi ke dalam kabin bagasi pesawat. Masing-masing maskpai memiliki petugas porter tersendiri. Demikian juga sebaliknya dari bongkar bagasi pesawat di bawa ke dalam ruang bagasi bandara. Sistem angkut pun manual menggunakan gerobak gandeng. Pada posisi inilah ulah oknum beraksi terhadap bagasi penumpang. Diantara cara mereka dengan merusak resleting tas dan mencari benda berharga di dalamnya. Jika tidak ditemukan, bisa jadi resleting tas rusak atau bisa jadi oknum tadi mengembalikan posisi resleting seperti semula, namun susunan pakaian atau barang di dalam tas koper menjadi acak-acakan.

Beberapa kejadian pembobolan bagasi antara lain tertangkapnya 4 oknum porter yang bertugas mengurusi bagasi maskapai Lion Air di Bandara Soekarno Hatta pada bulan Januari 2016 tadi. Mereka beraksi tidak sendiri, tetapi mendapatkan dukungan dari oknum lain dari oknum sekuriti. Demikian juga ditangkapnya petugas porter di Bandara Adi Sutjipto Yogya karena melakukan pencurian power bank dari bagasi penumpang. Dua contoh kasus tersebut telah mencemarkan profesi porter lainnya yang baik-baik.

Bandara Soekarno Hatta sedang mempersiapkan sistem modern penanganan bagasi. Konsepnya agar sejak di konter cek in hingga masuk ke dalam kabin bagasi pesawat tidak ada interaksi manusia, dalam hal ini tanpa porter. Jadi, semua dijalankan secara otomatis. Dengan cara seperti ini, maka jasa porter bagian dalam akan tamat riwayatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *