Interkoneksi Transport

Media Penjualan Tiket Pesawat dan Kereta Api Online

Nasib LCC, Penerbangan Biaya Murah di Indonesia

Tragedi nahas jatuhnya pesawat AirAsia memberikan dampak yang luar biasa bagi dunia penerbangan di Indonesia. Pemerintah terus melakukan evaluasi, investigasi, audit ke seluruh sistem terkait dalam penyelenggaraan penerbangan. Upaya ini dilakukan agar tidak terulang kembali tragedi serupa di kemudian hari.

Sorotan tajam mengarah kepada maskapai yang mengedepankan konsep penerbangan berbiaya murah atau yang diistilahkan dengan singkatan LCC [low cost carrier]. Meskipun LLC ini hanya salah satu diantara sekian banyak aspek yang terkait musibah, namun cukup beralasan untuk di evaluasi. Logika yang terbangun adalah keterkaitan biaya murah dengan nilai keselamatan. Apapun konteksnya, fasilitas publik seperti moda transportasi, bangunan, infrastruktur, dll, memerlukan biaya yang tidak murah untuk nilai keselamatan. Sebagai contoh, mobil mahal memiliki instrumen dan elemen pelindung terhadap pengemudi dan penumpang di dalamnya jika terjadi kecelakaan, mulai dari deteksi alarm, balon pelindung di dashboard, hingga jenis kaca mobil yang jika pecah tanpa melukai pengemudi dan penumpang. Berbeda tentunya dengan mobil murah, sejumlah instrumen dan elemen pelindung keselamatan sangat minim atau bahkan tidak ada.

Pesawat dengan biaya murah, berdampak kepada upaya penghematan berbagai aspek penerbangan. Misalnya, penghematan dalam penggunaan BBM, penghematan dengan mengurangi SDM digantikan dengan sistem komputerisasi, penghematan layanan/service kepada penumpang dengan meniadakan snack dan roti, optimalisasi tempat duduk untuk bisa memuat penumpang lebih banyak meskipun sempit. Demikian juga dengan pembelian pesawat bekas jauh lebih hemat dibandingkan dengan pesawat baru.

Pemerintah telah mengeluarkan warning terhadap LCC dan bahkan ada wacana menghapus LCC. Tujuannya, keselamatan penumpang menjadi lebih utama meskipun berkonsekuensi pada harga tiket yang mahal. Jika wacana pemerintah ini terwujud akan terjadi dilema bagi dunia penerbangan. Tahun 2013-2014 saja sudah ada empat maskapai yang menutup operasionalnya, seperti Batavia, Merpati, Tiger Mandala dan Sky Aviation. Tutupnya maskapai tersebut tidak terlepas dari persaingan antar maskapai yang semakin tinggi.

Pada sisi lain, sebagian besar masyarakat tetap mencari dan memiliki ketertarikan yang cukup besar dengan tiket pesawat murah. Bahkan tiket dapat dibeli hampir seluruh lapisan ekonomi masyarakat, hingga yang berpenghasilan rendah. Masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia cukup banyak dan menjadi segmen pasar potensial bagi maskapai LCC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *