Interkoneksi Transport

Media Penjualan Tiket Pesawat dan Kereta Api Online

Dapatkah Membendung Laju Sistem Online Pada Sistem Transportasi Publik?

Pertanyaan pada judul diutarakan setelah melihat fenomena baru sistem transportasi online merambah ibukota negara kita, Jakarta. Sistem online yang dimaksud adalah cara pemesanan atau booking penggunaan moda angkutan. Dulu, terlebih lagi sebelum ada sistem internet pemesanan dilakukan secara manual dengan mendatangi kantor travel. Model manual lainnya, misalnya jika ingin baik ojek harus mendatangi pangkalan ojek. Jika ingin naik angkot atau oplet harus mendatangi terminal atau sub terminal. Jika ingin naik bus harus ke terminal bus atau cegat di jalan yang dilewati bus.

Di musim mudik lebaran sangat terasa persaingan untuk mendapatkan kursi. Bisa terbayangkan bagaimana harus berjubel di terminal atau stasiun kemudian berebut memasuki bus atau kereta. Angkot juga mendapatkan konsumen dari para pelajar atau pegawai yang berangkat dan pulang sekolah atau kerja setiap hari.

Kota Jakarta kian tahun makin padat. Bukan saja karena pertumbuhan penduduk secara alamiah yang tinggi, tetapi juga karena besarnya para migran yang ingin mengadu nasib di ibukota. Akibatnya kebutuhan transportasi meningkat. Ojek, becak, bajaj, oplet, bemo, bus, taxi, travel, rental mobil saling berlomba mendapatkan konsumen. Setelah masuk zaman internet, banyak perubahan terjadi pada sistem transportasi. Pesawat dan Kereta Api telah memasuki dunia baru sistem online. Tidak perlu lagi berjubel di depat loket tiket, cukup lewat internet. Beberapa travel ternama juga sudah mulai menerapkan sistem online. Demikian juga bus AKAP di terminal telah dipersiapkan oleh pemerintah menerapkan sistem online.

Gegap gempita sebagian masyarakat menyambut baik sistem online, karena sangat memberikan kemudahan dibandingkan cara offline. Seakan-akan, ada paksaan kepada yang tidak terbiasa online untuk merubah kulturnya dalam bertransportasi. Desakan online tidak berhenti pada satu fase atau segmen tertentu saja, tetapi juga terus bergerak. Buktinya, ojek yang tidak teranggap sebagai angkutan umum telah di-online-kan. Tentu semua sudah kenal dengan Go-Jek. Belum genap 3 tahun sistem online gojek mewarnai transportasi ibukota. Berbagai kebutuhan sebagian masyarakat difasilitasi oleh gojek. Tidak saja menawarkan jasa antaran manusia, tetapi juga menawarkan jasa pembelian di toko tertentu kemudian diantarkan ke alamat pemesan.

Permasalahan pun muncul. Gesekan antara gojek dan opang [ojek pangkalan] kasus demi kasus bermunculan. Opang protes karena di area “kekuasaannya” ada gojek menjemput anak sekolah. Sementara pengemudi gojek menjalankan tugas sesuai permintaan yang diterima lewat aplikasinya. Kalau tidak dilayani tentu akan mengurangi citra layanan yang akhirnya mengurangi kepercayaan pelanggan. Ironis. Satu demi satu kasus menghiasi media. Perseteruan opang dan gojek. Tidak lama waktu berselang muncul lagi blu-jek, dengan sistem yang mirip-mirip dengan gojek.

Juga pernah muncul uber taxi yang berbasis online. Beberapa layanan taxi pun juga mulai menerapkan sistem online. Transportasi shuttle antar jemput bandara pun sudah menerapkan sistem online. Dan jangan dikira beberapa travel tidak menggunakan sistem online. Adanya sistem online memang sangat mempermudah mengatur rangkaian perjalanan.

Ternyata fenomena sistem online ini telah dianggap menjadi sebab berkurangnya “kantong” income sebagian sopir angkutan umum. Apa yang telah mereka usahakan mulai dari perijinan hingga operasional tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan oleh transportasi berbasis online. Hari ini, Senin 14 Maret 2016 terjadi demo para sopir angkutan umum di Jakarta. Mereka memprotes angkutan yang berbasis online dan menuntut Pemerintah agar menghapuskannya. Diantara taxi berbasis aplikasi online yang diminta bubar adalah Uber dan Grab Car. Kementerian Perhubungan pun telah memerintahkan untuk memblokir perusahaan tersebut.

Apakah sistem aplikasi online untuk transportasi berhenti setelah demo? Pertanyaan lain apakah yang dipersoalkan terkait sistem online nya atau kah legalitasnya? Bagaimana seandainya ada perusahaan transportasi umum memiliki ijin dan legal kemudian menjalankan sistem online, apakah juga akan menjadi penyebab demonstrasi? Beberapa pertanyaan lain pun dapat saja mengemuka. Akhirnya yang akan memilih adalah masyarakat pengguna jasa angkutan. Tampaknya kecenderungan masyarakat kepada aplikasi online sulit dibendung, karena menjadi pilihan transportasi yang lebih efektif dan efisien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *