Interkoneksi Transport

Media Penjualan Tiket Pesawat dan Kereta Api Online

Asap, Bencana Musim Kemarau yang Menghantui Dunia Penerbangan

kabut asap 5 sept di kalsel
Lokasi foto tersebut di atas sekitar 2,5 km dari Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin

Hari ini, Sabtu subuh tertanggal 5 September 2015 udara di dalam rumah tidak lagi menyegarkan. Oksigen yang mestinya menyambut bangun baginya warga telah bercampur dengan asap yang cukup menusuk hingga terasa ke dalam dada. Terlebih lagi saat keluar rumah betapa pekatnya asap di luar sana. Ini adalah fenomena buruk hampir tiap tahun yang dialami wilayah Kalimantan dan Sumatera. Khususnya tahun ini, sepertinya jauh lebih buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hari ini, setelah waktu menunjukkan pukul 06.30 asap masih menyelimuti wilayah kami. Biasanya saat ini terdengar suara pesawat yang berancang-ancang untuk take off pada penerbangan perdana. Namun, saat ini suara itu tidak terdengar. Melihat kondisi asap yang ada, sepertinya tidak memungkinkan atau tidak memenuhi pesawat untuk terbang. Mungkin jarak pandang hanya 100-150 m, angka yang jauh dari standar penerbangan.

Tidak ada yang bisa dilakukan dalam bencana asap ini, kecuali menunda penerbangan sampai waktu yang tidak ditentukan. Biasanya asap makin bertahan jika suhu udara dingin dan berembun. Rupanya asap tidak bisa bergerak karena kalah berat dibandingkan embun. Harapannya matahari bisa segera bersinar dan memanasi bumi, kemudian embun hilang dan asap pun bisa terbang ke atas, menjauh dari area penerbangan.

Sehebat apa pun jabatan mereka yang akan terbang dengan pesawat, tetap tidak bisa memaksakan maskapai untuk menerbangkan pesawat. Bahaya. Para penumpang pun tidak bisa protes dan ngamuk menuntut maskapai dengan kalimat ini itu. Bahkan maskapai tidak mengeluarkan kompensasi atas keterlambatan terbang. Kondisi ini dikenal dengan sebutan force majeure sebagai gambaran betapa daruratnya udara yang ada dan bukanlah kondisi rekasaya atau kesalahan operasional dan teknis maskapai.

Harapannya bergantung kepada pertolongan Allah, memperkuat harapan melalui do’a agar asap segera menghilang dan udara kembali cerah. Betapa ini sebuah musibah dan bencana yang tidak hanya kita rasakan di Indonesia, tetapi juga telah menyerbu negara tetangga. Pemerintah pun telah mengupayakan dan bertindak untuk memadamkan asap di seluruh wilayah Kalimantan dan Sumatera. Jajaran pemerintahan dari presiden hingga satuan kerja daerah setingkat kecamatan dan kelurahan telah dikerahkan untuk memadamkan asap dan kebakaran hutan serta mengantisipasi meluasnya sumber api (hot spot).

Waktu menulis ini sudah menunjukkan pukul 07.45, masih belum terdengar sama sekali suara mesin pesawat. Terbayangkan oleh kita berapa ratus penumpang yang menumpuk di terminal bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin yang menunggu kepastian berangkat. Meskipun di layar FIDS tertulis check in open, namun penumpang hanya bisa menunggu suara operator untuk menaiki pesawat. Padahal jika suasana normal penerbangan pertama pada pukul 06.00, kemudian 06.30, 07.00 dst. Akibatnya akan terjadi pergeseran seluruh jadwal penerbangan di kota lain. Demikian juga tentunya yang dialami kota lainnya di wilayah tetangga Banjarmasin yang paling parah terkena dampak asap seperti Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya dan Bandara Sampit Kalimantan Tengah, telah mengalami “lumpuh” sejak beberapa hari yang lalu.

Memang asap dari kebakaran area hutan dan rawa tidak seperti asap dari letupan gunung api. Mungkin tidak terlalu berbahaya dibanding abu vulkanik. Namun, bedanya asap dari kebakaran hutan ini menyelimuti seluruh wilayah, sehingga hampir tidak ada celah bagi pilot untuk berani menerbangkan pesawat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *